Siapa yang menggerakkan kita untuk berkihdmad di GP Ansor?

1
ANSOR BANSER WEDUNG

Siapa yang menggerakkan kita untuk berkihdmad di GP Ansor?

Salam sahabat/i, semoga api pengabdian dan perjuangan kita di GP Ansor tak pernah padam.

Saya awali dari sebuah pertanyaan, adakah selain NU, organisasi yang menjamin soal dunia dan akhirat bagi para pengurusnya yang bersungguh-sungguh mengabdi dan berjuang didalammnya? Jawabannya tidak ada, hanya Nahdlatul Ulama.

Saya haqqul yakin dengan ini, Hadrotus Syeikh Hasyim Asy`ari pernah berdawuh begini “Siapa yang mau mengurusi NU, aku anggap sebagai santriku. Siapa yang jadi santriku, maka aku doakan husunul khatimah beserta keluarganya,”. Khusnul Khotimah adalah cita-cita kita semua, siapa yang tak ingin kelak ketika meninggal dunia, kita meninggal dalam keadaan Khusnul Khotimah? Ini masalah akhirat saja kita sudah dijamin oleh beliau, belum lagi dawuh Alm Mbah Romo Yai Ridwan Abdullah ” jangan takut tidak makan kalau berjuang mengurus NU. Yakinlah ! kalau sampai tidak makan, komplain aku jika aku masih hidup. Tapi kalau aku sudah mati, maka tagihlah ke batu nisanku ! “ kali ini soal dunia yang kita sudah dijamin oleh para Muassis NU.

Lantas, pengabdian dan perjuangan kita disalah satu Banomnya, yakni GP Ansor, masih diliputi ragu dan tak yakin atas semua dawuhnya? Jika masih ragu dan tak percaya, keluar saja dari gerbong besar ini, hendak apalagi yang kita cari disini.

Adalah kesyukuran besar bagi kita, ini yang sering tidak kita sadari bersama, bahwa, adalah nikmat Allah yang besar, jika saat ini kita menjadi pengurus GP Ansor, Banser, Denwatser, kenapa begitu? Sekarang kita balik pertanyaannya, kenapa kita yang menjadi pengurus? Mengabdi dan berjuang yang jaminannya adalah dunia dan akhirat kita? Apakah kita lupa, bahwa diluar sana masih sangat banyak yang lebih kaya, lebih pintar, dan lebih layak untuk berjuang di GP Ansor? Kenapa kita? Kenapa kita yang mendapat kesempatan yang sangat luar biasa ini?

Lantas pertanyaan berikutnya adalah, siapa yang menyuruh, menggerakkan kita untuk menjadi bagian dari keluarga besar GP Ansor? Bertahan dengan hanya bermodal Ikhlas tanpa imbalan apapun? Salahkah jika saya berkata “Jangan-jangan yang memanggil kita untuk ada di GP Ansor adalah Romo Hadrotus Syeikh Hasyim Asy`ari?” Jangan-jangan kita adalah sedikit dari pemuda/i pilihan beliau yang dipercaya untuk meneruskan, menjaga Nahdlatul Ulama. Duh Gusti….

Mari sahabat/i, jika kita adalah pemuda/i pilihannya, tak malukah jika kita hanya ada dalam gerbong besar ini dan tak berbuat apa-apa? Abai pada tugas-tugas keorganisasian dan diam bukan sebagai sebuah amanah “Wa Nahnu Ansorullah”. Berjuang dan mengabdilah, sebisa dan sekuat apa yang kita bisa lakukan, hidupi GP Ansor kita dimanapun dan dalam struktur keorganisasian apapun kita berada. Para Muassis NU menjamin hidup kita dunia akhirat tentu bukan hanya kelakar belaka, bagaimana berat dan payahnya perjuangan dan pengabdian di NU dan Banom-banomnya hingga belia-beliau berwasiat seperti itu. jaminan itu tak akan kita peroleh jika kita hanya ada dan kemudian diam, tidak aktif, tak melakukan apa-apa, jangankan berbuat hal kecil, emikirkan organisasi saja tidak, tak malukah kita pada para Muassis NU yang telah dengan sangat luar biasa berani menjamin hidup dunia akhirat kita?

Semoga tulisa singkat ini, bisa sedikit menggugah hati kita untuk kembali membakar semangat perjuangan dan pengabdian kita di NU, dan GP Ansor khususnya yang terkadang redup.

Baca Juga :Lirik Lagu Syubbanul Wathon

Akhiron, syukron ala ihtimamikum, Bi annallaha yahmina bihimayatihim wayamudduna bi badadihim, wa yu`idu alaina min barokatihim, wa asororihim, wa anwarihimwa `ulumihim fiddini waddunya wal akhiroh alfatihah…(Afif Fuad Saidi).

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here